LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH
Pengolahan Feses Sapi Perah dan Jerami Padi secara
Terpadu menjadi Pupuk Organik Cair, Biogas, dan Pupuk Organik Padat
Oleh :
ISMAN RUSTANDI
200110140194
C / 3
LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PENGELOLAAN LIMBAH
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
SUMEDANG
2016
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Suatu usaha
peternakan dapat mengalami kegagalan jika penanganan limbahnya disepelekan.
Biasanya agar lebih mudahnya peternak membuangnya ke aliran sungai. Padahal hal
itu telah melanggar aturan hukum maupun aturan social kemasyarakatan.
Masyarakat akan menanggung kerugian yang tidak sedikit bila limbah tidak
diolah. Padahal limbah peternakan berupa feses, urine dan sisa makanan ternak merupakan
suatu bahan yang alami untuk diolah menjadi produk yang bernilai tinggi. Limbah
peternakan dapat dikonversi menjadi pupuk organik, bahan bakar dan biomassa
protein sel tunggal atau etanol. Hal ini tentunya dapat menambah keuntungan
tambahan bagi peternak jika mau mengolah limbah dengan baik.
Berdasarkan ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini, pengolahan limbah secara terpadu merupakan
suatu solusi untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas
agribisnis dan menambah nilai guna limbah. Sehingga dengan pengolahan limbah
tersebut akan terjadinya siklus pemanfaatan yang optimal atau Zero
Waste. Selain itu terhadap
pemanfaatan jerami padi yang produksinya cukup banyak dan dari sisa makanan
ternak yang tidak termanfaatkan dapat menjadi potensi besar khususnya dalam
pengolahan limbah secara terpadu. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi
dibuatnya Laporan Praktikum ini.
1.2. Tujuan
1.
Mengetahui
bagaimana pengolahan limbah peternakan yang baik.
2.
Mengetahui
proses dekomposisi awal, pembuatan biogas, pupuk organik cair dan
vermicomposting.
3.
Memanfaatkan
limbah ternak menjadi suatu produk yang berguna dan memiliki nilai jual yang
menguntungkan.
1.3.
Waktu dan Tempat
Hari : Selasa, 19
September – 20 November 2016
Waktu : 10.00 – 12.00
WIB
Tampat : Laboratorium
Mikrobiologi dan Penanganan Limbah
Fakultas Peternakan Univeritas Padjajaran
II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1.
Pengomposan
Pupuk kompos merupakan dekomposisi
bahan – bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi
senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan
kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam,
jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam
tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk
memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami
padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena
selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan
potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk
kompos.
Pemanfaatan limbah
peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat
untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak
sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra
produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang
dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi
kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan
menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.
Zat organik adalah zat yang
pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan
komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat
organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan
oksigen terlarut. Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai
aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan,
pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh
karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya
(Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam
bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya,
yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan;
sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun
anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna
perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera
dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya
memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan
oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan
aerobik dan anaerobik).
2.2.
Biogas
Cara Membuat Biogas Dari
Kotoran Sapi. Biogas dari kotoran sapi diperoleh dari dekomposisi anaerobik
dengan bantuan mikroorganisme. Pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dalam
keadaan anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian
besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon
dioksida, gas inilah yang disebut biogas. Proses fermentasi untuk pembentukan
biogas maksimal pada suhu 30-55 C, dimana pada suhu tersebut mikroorganisme
mampu merombak bahan bahan organik secara optimal.
Setelah peralatan digester
selesai dipasang maka selanjutnya adalah tahapan pembuatan biogas dari kotoran
sampi dengan cara sebagai berikut :
- Kotoran sapi dicampur dengan air hingga terbentuk
lumpur dengan perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Pada saat
pengadukan sampah di buang dari bak penampungan. Pengadukan dilakukan
hingga terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
- Lumpur dari bak penampungan sementara kemudian di
alirkan ke digester. Pada pengisian pertama digester harus di isi
sampai penuh.
- Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran)
sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH)
sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester
penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
- Gas metan sudah mulai di hasilkan pada hari 10
sedangkan pada hari ke -1 sampai ke - 8 gas yang terbentuk adalah CO2.
Pada komposisi CH4 54% dan CO2 27% maka biogas akan menyala.
- Pada hari ke -14 gas yang terbentuk dapat digunakan
untuk menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari
ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu
terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
- Digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu
sehingga dihasilkan biogas yang optimal.
- Kompos yang keluar dari digester di tampung di bak
penampungan kompos. Kompos cair di kemas ke dalam deregent sedangkan jika
ingin di kemas dalam karung maka kompos harus di keringkan.
2.3.
Vermikomposting
Kompos cacing tanah atau
terkenal dengan casting yaitu proses pengomposan juga dapat melibatkan
organisme makro seperti cacing tanah. Kerjasama antara cacing tanah dengan
mikro organisme memberi dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik.
Walaupun sebagian besar proses penguraian dilakukan mikroorganisme, tetapi
kehadiran cacing tanah dapat membantu proses tersebut karena bahan-bahan yang
akan diurai oleh mikroorganisme telah diurai lebih dahulu oleh cacing. Dengan
demikian, kerja mikroorganisme lebih efektif dan lebih cepat.
Hasil dari proses vermikomposting
ini berupa casting. Ada juga orang mengatakan bahwa casting merupakan kotoran
cacing yang dapat berguna untuk pupuk. Casting ini mengandung partikel-partikel
kecil dari bahan organik yang dimakan cacing dan kemudian dikeluarkan lagi.
Kandungan casting tergantung pada bahan organik dan jenis cacingnya. Namun
umumnya casting mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti nitrogen,
fosfor, mineral, vitamin. Karena mengandung unsur hara yang lengkap, apalagi
nilai C/N nya kurang dari 20 maka casting dapat digunakan sebagai pupuk.
2.4. Pupuk Organik
Limbah organik dapat
dimanfaatkan lagi menjadi sesuatu yang berguna lewat pembuatan pupuk organik.
Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman
dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. Pupuk organik
adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik
yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa,
dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk
memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut
menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau
bahan organik daripada kadar haranya, nilai C-organik itulah yang menjadi
pembeda dengan pupuk anorganik (Djuarnani, 2005).
Berdasarkan bentuknya,
pupuk organik dibagi menjadi dua, yakni pupuk cair dan padat. Pupuk organik
cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan – bahan organik yang berasal
dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya
lebih dari satu unsur. Sedangkan pupuk organik padat adalah pupuk yang sebagian
besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman,
kotoran hewan, dan kotoran manusia yang berbentuk padat (Hadisuwito, 2007).
Penggunaan pupuk organik
mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan
dikarenakan adanya bahan organik yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia,
dan biologi tanah. Perbaikan terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah,
memperbaiki aerasi dan drainase, meningkatkan ikatan antar partikel,
meningkatkan kapasitas menahan air, mencegah erosi dan longsor, dan
merevitalisasi daya olah tanah. Fungsi pupuk organik terhadap sifat kimia yaitu
meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan
meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Adapun terhadap sifat biologi
yaitu menjadikan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti fungi,
bakteri, serta mikroorganisme menguntungkan lainnya, sehingga perkembangannya
menjadi lebih cepat.
Kelebihan dari pupuk cair
organik adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak bermasalah
dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan
dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan
tanaman walaupun sesering mungkin digunakan. Selain itu, pupuk ini juga
memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan
tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman. Pupuk cair dikatakan bagus dan siap
diaplikasikan jika tingkat kematangannya sempurna. Pengomposan yang matang bisa
diketahui dengan memperhatikan keadaan bentuk fisiknya, dimana fermentasi yang
berhasil ditandai dengan adanya bercak – bercak putih pada permukaan cairan.
Cairan yang dihasilkan dari proses ini akan berwarna kuning kecoklatan dengan
bau yang menyengat (Purwendro dan Nurhidayat, 2007).
Menurut Parman (2007),
Penggunaan pupuk organik alam yang dapat dipergunakan untuk membantu mengatasi
kendala produksi pertanian adalah Pupuk Organik Cair. Pupuk organik ini diolah
dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan dan
bahan-bahan alami lainnya yang diproses secara alamiah selama 4 bulan. Pupuk
organik cair selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah,
membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman,
mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif pengganti pupuk
kandang.
III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil
Pengamatan Dekomposisi Awal
3.1.1. Bahan yang
Digunakan
Jumlah jerami yang digunakan : 20 kg
Jumlah
feses sapi perah yang digunakan : 10 kg
Jumlah
jerami sebagai alas : 1 kg
Jumlah
jerami sebagai penutup : 1
kg
3.1.2. Pengamatan
Suhu Rata-Rata
H1 :
50,67 oC
H2 : 53 oC
H3 : 53.3 oC
H4 : 49.9 oC
H5 : 45 oC
H6 : 38 oC
H7 : 40 oC
3.1.3. Pengamatan
Tambahan pada hari ke-7
Bau : mendekati bau tanah
: bawah karung : masih agak bau
feses
Konsistensi :
jerami sudah rapuh
Jamur :
sudah bertumbuh
: bawah karung : belum tumbuh
Warna :
coklat kehitaman
3.1.4. Data
Penyusutan
Berat
Awal : 30 kg
Berat
Akhir : 17,45 kg
% Penyusutan : 30 – 17,45/30 x 100%
: 12, 55 kg / 30 kg x 100%
: 41, 83%
3.1.5. Pembuatan
Pupuk Organik Cair (POC)
Substrat
dekomposan kering yang digunakan : 1 kg
Air
yang ditambahkan : 11
Liter
Filtrat
kental yang dihasilkan
: 5 liter
3.1.6. Biogas
Jumlah
padatan hasil filtrasi yang digunakan : 15 kg
Tepung
tapioca yang digunakan
: 2% atau 0.3 kg
3.1.6.1.
Pengamatan Tambahan
Hari ke
|
Hasil
|
7
|
Ban sudah mengembang tetapi api belum
belum menyala
|
14
|
Ban masih tetap mengembang dana pi masih
belum menyala
|
3.1.7.
Vermicomposting
Diketahui :
Berat
Media pertumbuhan Cacing :
3,5 kg
Berat
Bibit Cacing :
250 gram
Berat
Ampas Aren :
200 gram
Berat cacing setelah 2 minggu : 310 gram
3.2. Pembahasan
3.2.1.
Dekomposisi Awal
Pada proses dekomposisi awal, bahan jerami
dikeringkan 24 jam agar kadar air yang terkandungnya rendah. Setelah itu jerami
padi di cacah hingga kurang lebih 2 cm dengan bantuan alat pencacah atau golok
yang tajam dan batang kayu sebagai alas sehingga mempermudah saat proses
pemotongan. Praktikan duduk di kursi kecil agar memudahkan pula saat
pengerjakan dan diatas terpal agar hasil cacahan tidak banyak terbuang. Fungsi
dari pencacahan ini adalah agar memperluas luas permukaan jerami dan menjadikan
suasana menjadi anaerob saat dimasukkan ke karung. Saat dimasukkan ke karung
didiamkan selama 1 minggu agar kandungan airnya kembali berkurang dan terjadi
suasana anaerob. Jerami yang sudah dikarung ditimbang agar mengetahui berat
awal jerami padi tersebut.
Proses dekomposisi awal ialah
menimbang jerami dan feses dengan menggunakan timbangan dengan rasio (1:2),
jerami sudah tersedia hasil cacahan sehingga proses agak lebih cepat. Proses
homogenisasi dilakukan secara manual menggunakan tangan yang dilapisi agar benar-benar
sempurna dan tangan tidak terkontaminasi mikroorganisme yang berasal dari feses
maupun jerami. Proses inilah awal yang sangat menentukan keberhasilan
pengelolaan limbah secara terpadu ini karena jika bahan tidak homogen akan
menghambat kerja mikroorganisme perombak. Sebelum bahan yang homogen dimasukkan
ke karung, karung tersebut dijahit menggunakan tali rapia agar menghindari
bagian lancip pada kedua sisi karung yang dapat mempengaruhi proses dekomposisi
awal. Selanjutnya jerami kering yang tidak dicampurkan dengan feses ada
sebanyak 1 kg, dimana 1 kg jerami
disimpan di dalam karung sebelum bahan dimasukkan, fungsinya untuk mencegah
rembesan air keluar yang berasal dari kadar air feses dan sebagai alas juga.
Selanjutnya, bahan dimasukkan secara perlahan dan hati-hati, menggunakan
tongkat kayu dengan cara diputar lalu ditekan agar benar-benar suasananya
anaerob. Pada bagian atas ditutup kembali 1 kg jerami kering untuk mencegah
timbulnya bau dan penguapan nutrisi dan lapisan terakhir dengan kardus agar uap
hasil metabolisme terserap dan mencegah keracunan mikroba. Pada bagian luar,
karung diikat kembali agar suasana benar-benar anaerob.
Berdasarkan
berbagai suhu yang diamati, kelompok kami memiliki suhu yang cukup tinggi
dibandingkan dengan kelompok lain, dari suhu awal 50,67 0C, suhu
puncak 53,3 0C pada hari ketiga, dan suhu akhir 40 0C.
Suhu ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas mikroba selama dekomposisi 1 minggu
tersebut dan tingkat homogenisasi bahan campuran antara feses sapi pedaging dan
jerami padi. Sesuai dengan pendapat dari (Rachman Sutanto, 2002) bahwa Suhu
timbunan bahan yang mengalami dekomposisi akan meningkat sebagai hasil kegiatan
biologi. Suhu yang berkisar antara 60 0C – 70 0c
merupakan kondisi optimum kehidupan mikroorganisme tertentu dan membunuh
patogen yang tidak kita kehendaki. Dengan tujuan untuk memperoleh tingkat
higienis yang cukup dari bahan kompos, maka apabila memungkinkan suhu harus
dipertahankan 55 0C terus menerus selama 2 minggu atau 65 0C
selama 1 minggu proses dekomposisi berlangsung. Pendapat (Rachman Sutanto,
2002) tadi dibuktikan oleh tercapainya suhu puncak kelompok kami selama 1
minggu yaitu 67 0C. Fluktuasi suhu ini membentuk kurva dari suhu
timbunan bahan kompos yang dipengaruhi pada nisbah volume timbunan terhadap
permukaan. Makin tinggi volume timbunan dibandingkan permukaan, maka makin
besar isolasi panas dan makin mudah mudah timbunan menjadi panas. Volume
timbunan inilah yang mempengaruhi suhu awal, suhu puncak dan suhu akhir.
Penurunan suhu dari suhu puncak itu terjadi karena aktivitas dari mikroba
sendiri jika dikurva kan itu sigmoid, sehingga penurunan pada hari terakhir itu
menandakan sudah tidak lagi adanya aktivitas mikroba disana, sehingga
dekomposan sudah matang dan siap dilakukan proses selanjutnya.
Pada tahapan
selanjutnya yaitu hasil dekomposan diangin-anginkan dengan cara menggemburkan
dekomposan tersebut. Warna, bau, ada tidaknya jamur, serta lembab tidaknya
dekomposan. dekomposan tersebut sudah seperti tanah yang menandakan dekomposan
ini matang sempurna. Ditambahkan dengan pendapat menurut (Bambang, 2012)
Sebelum dilakukan pembuatan kompos tempatnya terlebih dahulu harus disiapkan.
Diusahakan tempat pembuatan pupuk organik terlindung dari terik matahari
langsung atau hujan (tempat yang beratap). Saat pembuatan kompos diusahakan
agar tidak tergenang air ataupun terkena air hujan karena akan menjadi busuk.
Penyusutan terjadi
kembali selama 1 minggu sampel 30 Kg dijemur diatas meja. Penyusutan pada
sampel yang dijemur di meja sebesar 41,83%. Hal tersebut dikarenakan penyerapan
air berjalan sempurna dan faktor lingkungan dan suhu sekitar yang menyebabkan
kadar air cepat berkurang. Perbedaan perlakuan nisbah C/N pun memberikan
pengaruh yang nyata terhadap penyusutan bahan komposan, hal ini disebabkan
proses pengomposan sangat dipengaruhi oleh kadar unsur C dan N yang tersedia
dalam bahan komposan. Hal ini berkaitan dengan aktivitas mikoorganisme yang
memerlukan unsur karbon dan nitrogen dalam jumlah yang seimbang untuk melakukan
perombakan bahan komposan, karena pada
kondisi ideal dimana kadar C dan
N terpenuhi, maka aktivitas perombakan bahan organik atau penyusutan bahan
komposan akan berjalan dengan baik.
Ditunjang oleh pendapat Musnamar (2007), bahwa di dalam proses
pengomposan akan terjadi perubahan struktur bahan organik yang dilakukan oleh
mikroorganisme, yaitu berupa penguraian selulosa, hemiselulosa, lemak, lilin,
serta yang lainnya menjadi karbondioksida (CO2) dan air. Dengan adanya
perubahan-perubahan tersebut, maka bobot dan isi bahan dasar kompos akan
menjadi berkurang antara 40 – 60 % dan tergantung bahan dasar kompos dan proses
pengomposannya.
3.2.2.
Pupuk Organik Cair
Pupuk Organik Cair
adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -
sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik cair menyediakan nitrogen dan
unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya
pupuk nitrogen kimia. Kehidupan binatang di dalam tanah juga terpacu dengan
penggunaan pupuk cair. Pupuk cair tersebut dapat dibuat dari kotoran hewan yang
masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran sapi kambing,
domba, kelinci, ayam atau ternak lainnya. Pendapat lain dari Hadisuwito (2007)
Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan – bahan organik
yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur
haranya lebih dari satu unsur. Hal tersebut sesuai dengan yang dilakukan di
praktikum bahwa POC ini berasal dari feses hewan yaitu sapi pedaging.
Pupuk organik cair
berasal dari substrat yaitu berupa ekstrak dari hasil filtrasi. Ekstrak ini
akan disiram air panas dan didiamkan selama kurang lebih 5 menit. Setelah itu,
disaring ke dalam baki penampung yang di dalamnya terdapat saringan dari
jerami. Saringan menggunakan jerami, bukan kain. Karena apabila saringan
terbuat dari kain, maka dikhawatirkan mikroorganisme yang baik untuk kesuburan
tanah terperangkap. Hasil dari pupuk orgaik cair ini berwarna kuning
kecoklatan, sedikit bebau karena belum stabil. Penggunaan pupuk organik cair
ini sangat efisien. 1 liter POC dapat diencerkan sampai 200 kali untuk
penggunaannya.
Sedangkan
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan
bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang
diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. POC sendiri didapatkan dari hasil
ekstraksi bahan yang sudah dijemur dan dilarutkan oleh air panas. Dengan berat
sampel yang direndam sebanyak 1 Kg, Jumlah Air panas untuk merendam 11 Liter
dan POC yang dihasilkan 5 Liter. Menurut prinsipnya, harusnya saat ekstraksi
ini di diamkan selama 2-3 jam agar semua bahan yang terkandung dalam hasil
penjemuran dekomposan terlarut oleh air panas namun dikarenakan kapasitas waktu
dan kondisi ekstraksi yang sudah cukup maka didiamkan hanya 1/2 jam saja. POC
yang dihasilkan 5 Liter itu merupakan hasil filtrasi dari ekstraksi yang
dilakukan oleh beberapa saringan yang salah satunya disaring oleh jerami,
karena agar unsur hara dan mikroba yang ada ikut terlarut dalam POC. Pada
prinsipnya setelah itu dilakukan aerasi sehari 2x, namun karena kapasitas waktu
praktikan maka aerasi dilakukan seminggu sekali menggunakan aerator dan
didiamkan aerob solusinya selama 1 minggu penuh.
3.2.3.
Biogas
Biogas adalah gas
yang dihasilkan oleh bahan organik yang difermentasi oleh mikroorganisme
anaerob. Biogas juga adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian
bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen (anaerob).
Komponen biogas antara lain sebagai berikut : ± 60 % CH4(metana), ± 38 % CO2
(karbon dioksida) dan ± 2 % N2, O2, H2, & H2S. Biogas dapat dibakar seperti
elpiji, dalam skala besar biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi
listrik, sehingga dapat dijadikan sumber energi alternatif yang ramah
lingkungan dan terbarukan. Sumber energi Biogas yang utama yaitu kotoran ternak
sapi. Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester. Digester berfungsi
untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri.
Digester sebenarnya meniru alat pencernaan dari ruminansia, untuk merubah gas
metan. Digester yang kami gunakan adalah berupa drum, dengan sealer dan klem.
Memakai tutup kompresor, sokrat dalam, selang, klem selang, dan kran. Dalam
digester juga dapat ditambahkan water trap untuk menangkap air pada saat proses
ini terjadi. Selang-selang ini dihubungkan dengan ban dalam dan kompor. Supaya
kompor menyala, makan gas metan harus lebih besar dari karbondioksidanya. Yang
dijadikan untuk bahan pembuatan biogas adalah filtrat yaitu bahan padat hasil
dari ekstraksi. Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar
khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan
pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Dalam skala besar, biogas dapat
digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses
produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung
dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya pertanian. Namun
pada praktikum kali ini, sisa dari pembuatan biogas berupa sludge akan
dijadikan media sebagai tempat perkembangbiakkan cacing tanah.
Menurut Setiawan
(2008), menyatakan bahwa biogas (gas bio) merupakan gas yang ditimbulkan jika
bahan – bahan organik, seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau sampah,
direndam di dalam air dan disimpan di dalam tempat tertutup atau anaerob. Hal
tersebut sesuai praktikum yang dilakukan. Sedangkan menurut Simamora, S et al.
(2006), menyatakan bahwa proses terjadinya biogas adalah fermentasi anaerob
bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas yang
mudah terbakar (flammable). Secara kimia, reaksi yang terjadi pada pembuatan
biogas cukup panjang dan rumit, meliputi tahap hidrolisis, tahap pengasaman,
dan tahap metanogenik.
Hasil praktikum
didapatkan sisa substrat hasil ekstraksi sebesar 15 Kg dan ditambahkan tepung
tapioca sebanyak 2% dari bahan sehingga didapatkan 0.3 Kg. Karena Biogas
menggunakan digester sederhana, dan untuk menentukan berhasil atau tidaknya gas
hasil biogas ditampung oleh Ban dalam Mobil yang menggelembung sempurna. Namun
setelah dicoba di kompor, api tidak mau keluar, dinyatakan bahwa gas yang
tertampung masih mengandung CO2 sehingga tidak menimbulkan nyala api.
3.2.4.
Vermikompos
Vermikomposting
adalah proses penguraian bahan organik menjadi anorganik oleh mikroorganisme
pengurai dan cacing tanah pada kondisi yang terkendali. Dalam proses ini, harus
memilih cacing tanah yang sesuai. Istilah vermikomposting serupa dengan istilah
vermiculture, namun sebenarnya berbeda. Vermiculture adalah khusus untuk
budidaya cacing tanah. Pembedanya dapat dilihat dari tujuan. Pada proses
vermikompos didapatkan 2 hasil, yaitu cacing dan vermikomposting. Dalam proses
ini, kami menggunakan sludge dari sisa hasil pembuatan biogas. Sludge dapat
dijadikan media pertumbuhan cacing tanah. Suhu yang diperukan sekitar 18o-28oC,
cacing tanah akan lethal dalam suhu diatas 32oC. Cacing yang
dimasukkan ke dalam media baru berupa sludge tetap ditambahkan media yang lama
dari cacing. Hal ini dimaksudkan agar cacing tidak stress dengan media yang
baru.
IV
KESIMPULAN
1.
Pengolahan
limbah yang baik adalah ramah lingkungan, cleaner production, dan zero waste.
2.
Proses
dekomposisi awal adalah proses pengomposan dengan mencampur bahan organik,
merombak menjadi senyawa yang lebih sederhana.
3.
Pengolahan
limbah menjadi biogas dapat menjadi alternatif sumber energy.
4.
Pengolahan
limbah menjadi pupuk organik cair sangat efisien.
5.
Sisa
dari pembuatan biogas didapatkan hasil berupa sludge, yang dapat dijadikan
media pertumbuhan untuk cacing tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Djuarnani,
N. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos.
PT. Agromedia Pustaka. Jakarta
Hadisuwito,
S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair.
PT Agromedia Pustaka. Jakarta
Musnamar,
E.I. 2007. Pupuk Organik (Cair dan Padat,
Pembuatan, Aplikasi). Penebar Swadaya. Jakarta.
Parman, S.
2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik
Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang (Solanum tuberosum L.).
Anatomi dan Fisiologi Vol 15 (2) Hal: 1-4
Polprasert,
C.1989. Organic Waste Recycling. John
Wiley& Son, Chichester, Inggris
Purwendro,
D. dan Nurhidayat T. 2007. Pembuatan
Pupuk Cair. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Setiawan,
A.I. 2008. Memanfatkan Kotoran Ternak.
Cet 14. Jakarta: Penebar Swadaya.
Simamora,
S. et al. 2006. Membuat Biogas Pengganti
Bahan Bakar Minyak Dan Gas Dari Kotoran Ternak. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian
Organik. Kanisius: Yogyakarta.
Unggul,
Bambang. 2012. Pembuatan Kompos Kotoran
Sapi. Balai Pengkajian Teknologi Jawa
Barat.
