Monday, May 30, 2016

Pengolahan Limbah Feses Sapi Perah

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH

Pengolahan Feses Sapi Perah dan Jerami Padi secara Terpadu menjadi Pupuk Organik Cair, Biogas, dan Pupuk Organik Padat

Oleh :
ISMAN RUSTANDI
200110140194
C / 3






 LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN PENGELOLAAN LIMBAH
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJAJARAN
SUMEDANG
2016


I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Suatu usaha peternakan dapat mengalami kegagalan jika penanganan limbahnya disepelekan. Biasanya agar lebih mudahnya peternak membuangnya ke aliran sungai. Padahal hal itu telah melanggar aturan hukum maupun aturan social kemasyarakatan. Masyarakat akan menanggung kerugian yang tidak sedikit bila limbah tidak diolah. Padahal limbah peternakan berupa feses, urine dan sisa makanan ternak merupakan suatu bahan yang alami untuk diolah menjadi produk yang bernilai tinggi. Limbah peternakan dapat dikonversi menjadi pupuk organik, bahan bakar dan biomassa protein sel tunggal atau etanol. Hal ini tentunya dapat menambah keuntungan tambahan bagi peternak jika mau mengolah limbah dengan baik.
Berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, pengolahan limbah secara terpadu merupakan suatu solusi untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas agribisnis dan menambah nilai guna limbah. Sehingga dengan pengolahan limbah tersebut akan terjadinya siklus pemanfaatan yang optimal atau  Zero Waste. Selain itu terhadap pemanfaatan jerami padi yang produksinya cukup banyak dan dari sisa makanan ternak yang tidak termanfaatkan dapat menjadi potensi besar khususnya dalam pengolahan limbah secara terpadu. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi dibuatnya Laporan Praktikum ini.



1.2.     Tujuan
1.                  Mengetahui bagaimana pengolahan limbah peternakan yang baik.
2.                  Mengetahui proses dekomposisi awal, pembuatan biogas, pupuk organik cair dan vermicomposting.
3.                  Memanfaatkan limbah ternak menjadi suatu produk yang berguna dan memiliki nilai jual yang menguntungkan.

1.3.            Waktu dan Tempat
Hari                 : Selasa, 19 September – 20 November 2016
Waktu             : 10.00 – 12.00 WIB
Tampat           : Laboratorium Mikrobiologi dan Penanganan Limbah                
                          Fakultas Peternakan Univeritas Padjajaran



II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1. Pengomposan
Pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan – bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.
Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk sudah dilakukan petani secara optimal di daerah-daerah sentra produk sayuran. Sayangnya masih ada kotoran ternak tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak dimanfaatkan sebagai sumber pupuk. Keluhan petani saat terjadi kelangkaan atau mahalnya harga pupuk non organik (kimia) dapat diatasi dengan menggiatkan kembali pembuatan dan pemanfaatan pupuk kompos.
Zat organik adalah zat yang pada umumnya merupakan bagian dari binatang atau tumbuh tumbuhan dengan komponen utamanya adalah karbon, protein, dan lemak lipid. Zat organik ini mudah sekali mengalami pembusukan oleh bakteri dengan menggunakan oksigen terlarut. Limbah organik adalah sisa atau buangan dari berbagai aktifitas manusia seperti rumah tangga, industri, pemukiman, peternakan, pertanian dan perikanan yang berupa bahan organik; yang biasanya tersusun oleh karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, sulfur dan mineral lainnya (Polprasert, 1989). Limbah organik yang masuk ke dalam perairan dalam bentuk padatan yang terendap, koloid, tersuspensi dan terlarut. Pada umumnya, yang dalam bentuk padatan akan langsung mengendap menuju dasar perairan; sedangkan bentuk lainnya berada di badan air, baik di bagian yang aerob maupun anaerob. Dimanapun limbah organik berada, jika tidak dimanfaatkan oleh fauna perairan lain, seperti ikan, kepiting, bentos dan lainnya; maka akan segera dimanfaatkan oleh mikroba; baik mikroba aerobik (mikroba yang hidupnya memerlukan oksigen); mikroba anaerobik (mikroba yang hudupnya tidak memerlukan oksigen) dan mikroba .fakultatif (mikroba yang dapat hidup pada perairan aerobik dan anaerobik).

2.2. Biogas
Cara Membuat Biogas Dari Kotoran Sapi. Biogas dari kotoran sapi diperoleh dari dekomposisi anaerobik dengan bantuan mikroorganisme. Pembuatan biogas dari kotoran sapi harus dalam keadaan anaerobik (tertutup dari udara bebas) untuk menghasilkan gas yang sebagian besar adalah berupa gas metan (yang memiliki sifat mudah terbakar) dan karbon dioksida, gas inilah yang disebut biogas. Proses fermentasi untuk pembentukan biogas maksimal pada suhu 30-55 C, dimana pada suhu tersebut mikroorganisme mampu merombak bahan bahan organik secara optimal.
Setelah peralatan digester selesai dipasang maka selanjutnya adalah tahapan pembuatan biogas dari kotoran sampi dengan cara sebagai berikut :
  1. Kotoran sapi dicampur dengan air hingga terbentuk lumpur dengan perbandingan 1:1 pada bak penampung sementara. Pada saat pengadukan sampah di buang dari bak penampungan. Pengadukan dilakukan hingga terbentuk lumpur dari kotoran sapi.
  2. Lumpur dari bak penampungan sementara kemudian di alirkan ke digester. Pada pengisian pertama digester harus di isi sampai  penuh.
  3. Melakukan penambahan starter (banyak dijual dipasaran) sebanyak 1 liter dan isi rumen segar dari rumah potong hewan (RPH) sebanyak 5 karung untuk kapasitas digester 3,5 - 5,0 m2. Setelah digester penuh, kran gas ditutup supaya terjadi proses fermentasi.
  4. Gas metan sudah mulai di hasilkan pada hari 10 sedangkan pada hari ke -1 sampai ke - 8 gas yang terbentuk adalah CO2. Pada komposisi CH4 54% dan CO2 27% maka biogas akan menyala.
  5. Pada hari ke -14 gas yang terbentuk dapat digunakan untuk menyalakan api pada kompor gas atau kebutuhan lainnya. Mulai hari ke-14 ini kita sudah bisa menghasilkan energi biogas yang selalu terbarukan. Biogas ini tidak berbau seperti bau kotoran sapi.
  6. Digester terus diisi lumpur kotoran sapi secara kontinu sehingga dihasilkan biogas yang optimal.
  7. Kompos yang keluar dari digester di tampung di bak penampungan kompos. Kompos cair di kemas ke dalam deregent sedangkan jika ingin di kemas dalam karung maka kompos harus di keringkan.

2.3. Vermikomposting
Kompos cacing tanah atau terkenal dengan casting yaitu proses pengomposan juga dapat melibatkan organisme makro seperti cacing tanah. Kerjasama antara cacing tanah dengan mikro organisme memberi dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik. Walaupun sebagian besar proses penguraian dilakukan mikroorganisme, tetapi kehadiran cacing tanah dapat membantu proses tersebut karena bahan-bahan yang akan diurai oleh mikroorganisme telah diurai lebih dahulu oleh cacing. Dengan demikian, kerja mikroorganisme lebih efektif dan lebih cepat.
            Hasil dari proses vermikomposting ini berupa casting. Ada juga orang mengatakan bahwa casting merupakan kotoran cacing yang dapat berguna untuk pupuk. Casting ini mengandung partikel-partikel kecil dari bahan organik yang dimakan cacing dan kemudian dikeluarkan lagi. Kandungan casting tergantung pada bahan organik dan jenis cacingnya. Namun umumnya casting mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman seperti nitrogen, fosfor, mineral, vitamin. Karena mengandung unsur hara yang lengkap, apalagi nilai C/N nya kurang dari 20 maka casting dapat digunakan sebagai pupuk.

 2.4. Pupuk Organik
Limbah organik dapat dimanfaatkan lagi menjadi sesuatu yang berguna lewat pembuatan pupuk organik. Pupuk organik adalah nama kolektif untuk semua jenis bahan organik asal tanaman dan hewan yang dapat dirombak menjadi hara tersedia bagi tanaman. Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Definisi tersebut menunjukkan bahwa pupuk organik lebih ditujukan kepada kandungan C-organik atau bahan organik daripada kadar haranya, nilai C-organik itulah yang menjadi pembeda dengan pupuk anorganik (Djuarnani, 2005).
Berdasarkan bentuknya, pupuk organik dibagi menjadi dua, yakni pupuk cair dan padat. Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan – bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Sedangkan pupuk organik padat adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan kotoran manusia yang berbentuk padat (Hadisuwito, 2007).
Penggunaan pupuk organik mampu menjadi solusi dalam mengurangi aplikasi pupuk anorganik yang berlebihan dikarenakan adanya bahan organik yang mampu memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Perbaikan terhadap sifat fisik yaitu menggemburkan tanah, memperbaiki aerasi dan drainase, meningkatkan ikatan antar partikel, meningkatkan kapasitas menahan air, mencegah erosi dan longsor, dan merevitalisasi daya olah tanah. Fungsi pupuk organik terhadap sifat kimia yaitu meningkatkan kapasitas tukar kation, meningkatkan ketersediaan unsur hara, dan meningkatkan proses pelapukan bahan mineral. Adapun terhadap sifat biologi yaitu menjadikan sumber makanan bagi mikroorganisme tanah seperti fungi, bakteri, serta mikroorganisme menguntungkan lainnya, sehingga perkembangannya menjadi lebih cepat.
Kelebihan dari pupuk cair organik adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun sesering mungkin digunakan. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman. Pupuk cair dikatakan bagus dan siap diaplikasikan jika tingkat kematangannya sempurna. Pengomposan yang matang bisa diketahui dengan memperhatikan keadaan bentuk fisiknya, dimana fermentasi yang berhasil ditandai dengan adanya bercak – bercak putih pada permukaan cairan. Cairan yang dihasilkan dari proses ini akan berwarna kuning kecoklatan dengan bau yang menyengat (Purwendro dan Nurhidayat, 2007).
Menurut Parman (2007), Penggunaan pupuk organik alam yang dapat dipergunakan untuk membantu mengatasi kendala produksi pertanian adalah Pupuk Organik Cair. Pupuk organik ini diolah dari bahan baku berupa kotoran ternak, kompos, limbah alam, hormon tumbuhan dan bahan-bahan alami lainnya yang diproses secara alamiah selama 4 bulan. Pupuk organik cair selain dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas produk tanaman, mengurangi penggunaan pupuk anorganik dan sebagai alternatif pengganti pupuk kandang.



III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan Dekomposisi Awal
3.1.1. Bahan yang Digunakan
Jumlah jerami yang digunakan                : 20 kg
Jumlah feses sapi perah yang digunakan : 10 kg
Jumlah jerami sebagai alas                      : 1 kg
Jumlah jerami sebagai penutup               : 1 kg

3.1.2. Pengamatan Suhu Rata-Rata
H1       : 50,67 oC
            H2       : 53 oC
            H3       : 53.3 oC
            H4       : 49.9 oC
            H5       : 45 oC
            H6       : 38 oC
            H7       : 40 oC

3.1.3. Pengamatan Tambahan pada hari ke-7
Bau                  : mendekati bau tanah
                        : bawah karung : masih agak bau feses
Konsistensi     : jerami sudah rapuh
Jamur              : sudah bertumbuh
                        : bawah karung : belum tumbuh
Warna             : coklat kehitaman

3.1.4. Data Penyusutan
Berat Awal       : 30 kg
Berat Akhir       : 17,45 kg
% Penyusutan   : 30 – 17,45/30 x 100%
              : 12, 55 kg / 30 kg x 100%
              : 41, 83%

3.1.5. Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC)
Substrat dekomposan kering yang digunakan  : 1 kg
Air yang ditambahkan                                      : 11 Liter
Filtrat kental yang dihasilkan                          : 5 liter

3.1.6. Biogas
Jumlah padatan hasil filtrasi yang digunakan : 15 kg
Tepung tapioca yang digunakan                     : 2% atau 0.3 kg
3.1.6.1. Pengamatan Tambahan
Hari ke
Hasil
7
Ban sudah mengembang tetapi api belum belum menyala
14
Ban masih tetap mengembang dana pi masih belum menyala

3.1.7. Vermicomposting
Diketahui :
                        Berat Media pertumbuhan Cacing                  : 3,5 kg
                        Berat Bibit Cacing                                          : 250 gram
                        Berat Ampas Aren                                          : 200 gram
Berat cacing setelah 2 minggu : 310 gram

3.2. Pembahasan
3.2.1. Dekomposisi Awal
             Pada proses dekomposisi awal, bahan jerami dikeringkan 24 jam agar kadar air yang terkandungnya rendah. Setelah itu jerami padi di cacah hingga kurang lebih 2 cm dengan bantuan alat pencacah atau golok yang tajam dan batang kayu sebagai alas sehingga mempermudah saat proses pemotongan. Praktikan duduk di kursi kecil agar memudahkan pula saat pengerjakan dan diatas terpal agar hasil cacahan tidak banyak terbuang. Fungsi dari pencacahan ini adalah agar memperluas luas permukaan jerami dan menjadikan suasana menjadi anaerob saat dimasukkan ke karung. Saat dimasukkan ke karung didiamkan selama 1 minggu agar kandungan airnya kembali berkurang dan terjadi suasana anaerob. Jerami yang sudah dikarung ditimbang agar mengetahui berat awal jerami padi tersebut.
            Proses dekomposisi awal ialah menimbang jerami dan feses dengan menggunakan timbangan dengan rasio (1:2), jerami sudah tersedia hasil cacahan sehingga proses agak lebih cepat. Proses homogenisasi dilakukan secara manual menggunakan tangan yang dilapisi agar benar-benar sempurna dan tangan tidak terkontaminasi mikroorganisme yang berasal dari feses maupun jerami. Proses inilah awal yang sangat menentukan keberhasilan pengelolaan limbah secara terpadu ini karena jika bahan tidak homogen akan menghambat kerja mikroorganisme perombak. Sebelum bahan yang homogen dimasukkan ke karung, karung tersebut dijahit menggunakan tali rapia agar menghindari bagian lancip pada kedua sisi karung yang dapat mempengaruhi proses dekomposisi awal. Selanjutnya jerami kering yang tidak dicampurkan dengan feses ada sebanyak 1 kg, dimana  1 kg jerami disimpan di dalam karung sebelum bahan dimasukkan, fungsinya untuk mencegah rembesan air keluar yang berasal dari kadar air feses dan sebagai alas juga. Selanjutnya, bahan dimasukkan secara perlahan dan hati-hati, menggunakan tongkat kayu dengan cara diputar lalu ditekan agar benar-benar suasananya anaerob. Pada bagian atas ditutup kembali 1 kg jerami kering untuk mencegah timbulnya bau dan penguapan nutrisi dan lapisan terakhir dengan kardus agar uap hasil metabolisme terserap dan mencegah keracunan mikroba. Pada bagian luar, karung diikat kembali agar suasana benar-benar anaerob.
Berdasarkan berbagai suhu yang diamati, kelompok kami memiliki suhu yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelompok lain, dari suhu awal 50,67 0C, suhu puncak 53,3 0C pada hari ketiga, dan suhu akhir 40 0C. Suhu ini sangat dipengaruhi oleh aktivitas mikroba selama dekomposisi 1 minggu tersebut dan tingkat homogenisasi bahan campuran antara feses sapi pedaging dan jerami padi. Sesuai dengan pendapat dari (Rachman Sutanto, 2002) bahwa Suhu timbunan bahan yang mengalami dekomposisi akan meningkat sebagai hasil kegiatan biologi. Suhu yang berkisar antara 60 0C – 70 0c merupakan kondisi optimum kehidupan mikroorganisme tertentu dan membunuh patogen yang tidak kita kehendaki. Dengan tujuan untuk memperoleh tingkat higienis yang cukup dari bahan kompos, maka apabila memungkinkan suhu harus dipertahankan 55 0C terus menerus selama 2 minggu atau 65 0C selama 1 minggu proses dekomposisi berlangsung. Pendapat (Rachman Sutanto, 2002) tadi dibuktikan oleh tercapainya suhu puncak kelompok kami selama 1 minggu yaitu 67 0C. Fluktuasi suhu ini membentuk kurva dari suhu timbunan bahan kompos yang dipengaruhi pada nisbah volume timbunan terhadap permukaan. Makin tinggi volume timbunan dibandingkan permukaan, maka makin besar isolasi panas dan makin mudah mudah timbunan menjadi panas. Volume timbunan inilah yang mempengaruhi suhu awal, suhu puncak dan suhu akhir. Penurunan suhu dari suhu puncak itu terjadi karena aktivitas dari mikroba sendiri jika dikurva kan itu sigmoid, sehingga penurunan pada hari terakhir itu menandakan sudah tidak lagi adanya aktivitas mikroba disana, sehingga dekomposan sudah matang dan siap dilakukan proses selanjutnya.
Pada tahapan selanjutnya yaitu hasil dekomposan diangin-anginkan dengan cara menggemburkan dekomposan tersebut. Warna, bau, ada tidaknya jamur, serta lembab tidaknya dekomposan. dekomposan tersebut sudah seperti tanah yang menandakan dekomposan ini matang sempurna. Ditambahkan dengan pendapat menurut (Bambang, 2012) Sebelum dilakukan pembuatan kompos tempatnya terlebih dahulu harus disiapkan. Diusahakan tempat pembuatan pupuk organik terlindung dari terik matahari langsung atau hujan (tempat yang beratap). Saat pembuatan kompos diusahakan agar tidak tergenang air ataupun terkena air hujan karena akan menjadi busuk.
Penyusutan terjadi kembali selama 1 minggu sampel 30 Kg dijemur diatas meja. Penyusutan pada sampel yang dijemur di meja sebesar 41,83%. Hal tersebut dikarenakan penyerapan air berjalan sempurna dan faktor lingkungan dan suhu sekitar yang menyebabkan kadar air cepat berkurang. Perbedaan perlakuan nisbah C/N pun memberikan pengaruh yang nyata terhadap penyusutan bahan komposan, hal ini disebabkan proses pengomposan sangat dipengaruhi oleh kadar unsur C dan N yang tersedia dalam bahan komposan. Hal ini berkaitan dengan aktivitas mikoorganisme yang memerlukan unsur karbon dan nitrogen dalam jumlah yang seimbang untuk melakukan perombakan bahan komposan, karena pada  kondisi ideal dimana  kadar C dan N terpenuhi, maka aktivitas perombakan bahan organik atau penyusutan bahan komposan akan berjalan dengan baik.  Ditunjang oleh pendapat Musnamar (2007), bahwa di dalam proses pengomposan akan terjadi perubahan struktur bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme, yaitu berupa penguraian selulosa, hemiselulosa, lemak, lilin, serta yang lainnya menjadi karbondioksida (CO2) dan air. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut, maka bobot dan isi bahan dasar kompos akan menjadi berkurang antara 40 – 60 % dan tergantung bahan dasar kompos dan proses pengomposannya.  

3.2.2. Pupuk Organik Cair
Pupuk Organik Cair adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa - sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik cair menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Kehidupan binatang di dalam tanah juga terpacu dengan penggunaan pupuk cair. Pupuk cair tersebut dapat dibuat dari kotoran hewan yang masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran sapi kambing, domba, kelinci, ayam atau ternak lainnya. Pendapat lain dari Hadisuwito (2007) Pupuk organik cair adalah larutan dari hasil pembusukan bahan – bahan organik yang berasal dari sisa tanaman, kotoran hewan, dan manusia yang kandungan unsur haranya lebih dari satu unsur. Hal tersebut sesuai dengan yang dilakukan di praktikum bahwa POC ini berasal dari feses hewan yaitu sapi pedaging.
Pupuk organik cair berasal dari substrat yaitu berupa ekstrak dari hasil filtrasi. Ekstrak ini akan disiram air panas dan didiamkan selama kurang lebih 5 menit. Setelah itu, disaring ke dalam baki penampung yang di dalamnya terdapat saringan dari jerami. Saringan menggunakan jerami, bukan kain. Karena apabila saringan terbuat dari kain, maka dikhawatirkan mikroorganisme yang baik untuk kesuburan tanah terperangkap. Hasil dari pupuk orgaik cair ini berwarna kuning kecoklatan, sedikit bebau karena belum stabil. Penggunaan pupuk organik cair ini sangat efisien. 1 liter POC dapat diencerkan sampai 200 kali untuk penggunaannya.
Sedangkan Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. POC sendiri didapatkan dari hasil ekstraksi bahan yang sudah dijemur dan dilarutkan oleh air panas. Dengan berat sampel yang direndam sebanyak 1 Kg, Jumlah Air panas untuk merendam 11 Liter dan POC yang dihasilkan 5 Liter. Menurut prinsipnya, harusnya saat ekstraksi ini di diamkan selama 2-3 jam agar semua bahan yang terkandung dalam hasil penjemuran dekomposan terlarut oleh air panas namun dikarenakan kapasitas waktu dan kondisi ekstraksi yang sudah cukup maka didiamkan hanya 1/2 jam saja. POC yang dihasilkan 5 Liter itu merupakan hasil filtrasi dari ekstraksi yang dilakukan oleh beberapa saringan yang salah satunya disaring oleh jerami, karena agar unsur hara dan mikroba yang ada ikut terlarut dalam POC. Pada prinsipnya setelah itu dilakukan aerasi sehari 2x, namun karena kapasitas waktu praktikan maka aerasi dilakukan seminggu sekali menggunakan aerator dan didiamkan aerob solusinya selama 1 minggu penuh.

3.2.3. Biogas
Biogas adalah gas yang dihasilkan oleh bahan organik yang difermentasi oleh mikroorganisme anaerob. Biogas juga adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh mikroorganisme pada kondisi langka oksigen (anaerob). Komponen biogas antara lain sebagai berikut : ± 60 % CH4(metana), ± 38 % CO2 (karbon dioksida) dan ± 2 % N2, O2, H2, & H2S. Biogas dapat dibakar seperti elpiji, dalam skala besar biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik, sehingga dapat dijadikan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Sumber energi Biogas yang utama yaitu kotoran ternak sapi. Bangunan utama dari instalasi biogas adalah digester. Digester berfungsi untuk menampung gas metan hasil perombakan bahan bahan organik oleh bakteri. Digester sebenarnya meniru alat pencernaan dari ruminansia, untuk merubah gas metan. Digester yang kami gunakan adalah berupa drum, dengan sealer dan klem. Memakai tutup kompresor, sokrat dalam, selang, klem selang, dan kran. Dalam digester juga dapat ditambahkan water trap untuk menangkap air pada saat proses ini terjadi. Selang-selang ini dihubungkan dengan ban dalam dan kompor. Supaya kompor menyala, makan gas metan harus lebih besar dari karbondioksidanya. Yang dijadikan untuk bahan pembuatan biogas adalah filtrat yaitu bahan padat hasil dari ekstraksi. Manfaat energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah dan dipergunakan untuk memasak kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman / budidaya pertanian. Namun pada praktikum kali ini, sisa dari pembuatan biogas berupa sludge akan dijadikan media sebagai tempat perkembangbiakkan cacing tanah.
Menurut Setiawan (2008), menyatakan bahwa biogas (gas bio) merupakan gas yang ditimbulkan jika bahan – bahan organik, seperti kotoran hewan, kotoran manusia, atau sampah, direndam di dalam air dan disimpan di dalam tempat tertutup atau anaerob. Hal tersebut sesuai praktikum yang dilakukan. Sedangkan menurut Simamora, S et al. (2006), menyatakan bahwa proses terjadinya biogas adalah fermentasi anaerob bahan organik yang dilakukan oleh mikroorganisme sehingga menghasilkan gas yang mudah terbakar (flammable). Secara kimia, reaksi yang terjadi pada pembuatan biogas cukup panjang dan rumit, meliputi tahap hidrolisis, tahap pengasaman, dan tahap metanogenik.
Hasil praktikum didapatkan sisa substrat hasil ekstraksi sebesar 15 Kg dan ditambahkan tepung tapioca sebanyak 2% dari bahan sehingga didapatkan 0.3 Kg. Karena Biogas menggunakan digester sederhana, dan untuk menentukan berhasil atau tidaknya gas hasil biogas ditampung oleh Ban dalam Mobil yang menggelembung sempurna. Namun setelah dicoba di kompor, api tidak mau keluar, dinyatakan bahwa gas yang tertampung masih mengandung CO2 sehingga tidak menimbulkan nyala api.

3.2.4. Vermikompos
Vermikomposting adalah proses penguraian bahan organik menjadi anorganik oleh mikroorganisme pengurai dan cacing tanah pada kondisi yang terkendali. Dalam proses ini, harus memilih cacing tanah yang sesuai. Istilah vermikomposting serupa dengan istilah vermiculture, namun sebenarnya berbeda. Vermiculture adalah khusus untuk budidaya cacing tanah. Pembedanya dapat dilihat dari tujuan. Pada proses vermikompos didapatkan 2 hasil, yaitu cacing dan vermikomposting. Dalam proses ini, kami menggunakan sludge dari sisa hasil pembuatan biogas. Sludge dapat dijadikan media pertumbuhan cacing tanah. Suhu yang diperukan sekitar 18o-28oC, cacing tanah akan lethal dalam suhu diatas 32oC. Cacing yang dimasukkan ke dalam media baru berupa sludge tetap ditambahkan media yang lama dari cacing. Hal ini dimaksudkan agar cacing tidak stress dengan media yang baru.



IV
KESIMPULAN

1.      Pengolahan limbah yang baik adalah ramah lingkungan, cleaner production, dan zero waste.
2.      Proses dekomposisi awal adalah proses pengomposan dengan mencampur bahan organik, merombak menjadi senyawa yang lebih sederhana.
3.      Pengolahan limbah menjadi biogas dapat menjadi alternatif sumber energy.
4.      Pengolahan limbah menjadi pupuk organik cair sangat efisien.
5.      Sisa dari pembuatan biogas didapatkan hasil berupa sludge, yang dapat dijadikan media pertumbuhan untuk cacing tanah.



DAFTAR PUSTAKA

Djuarnani, N. 2005. Cara Cepat Membuat Kompos. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta
Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. PT Agromedia Pustaka. Jakarta
Musnamar, E.I. 2007. Pupuk Organik (Cair dan Padat, Pembuatan, Aplikasi). Penebar Swadaya. Jakarta.
Parman, S. 2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang (Solanum tuberosum L.). Anatomi dan Fisiologi Vol 15 (2) Hal: 1-4
Polprasert, C.1989. Organic Waste Recycling. John Wiley& Son, Chichester, Inggris
Purwendro, D. dan Nurhidayat T. 2007. Pembuatan Pupuk Cair. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Setiawan, A.I. 2008. Memanfatkan Kotoran Ternak. Cet 14. Jakarta: Penebar Swadaya.
Simamora, S. et al. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak Dan Gas Dari Kotoran Ternak. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik. Kanisius: Yogyakarta.

Unggul, Bambang. 2012. Pembuatan Kompos Kotoran Sapi. Balai Pengkajian Teknologi Jawa Barat.